Friday, 22 April 2016

Sang Pejuang Islam Berhati Baja


Nusaibah Binti Ka'ab - Sahabiyah Ansar Yang Berhati Baja.

Silahkan dibaca dengan perlahan untuk di ambil ibrohnya...

Hari itu Nusaibah sedang berada di dapur.  Suaminya, Said sedang berehat di bilik tidur. 

Tiba-tiba terdengar suara gemuruh bagaikan gunung-gunung batu yang runtuh. 

Nusaibah menerka, itu pasti tentera musuh. Memang, beberapa hari ini ketegangan memuncak di kawasan Gunung Uhud.

Dengan bergegas, Nusaibah meninggalkan apa yang sedang dilakukannya dan masuk ke bilik. 

Suaminya yang sedang tertidur dengan halus dan lembut dikejutkannya. “Suamiku tersayang,” 
Nusaibah berkata, “aku mendengar suara pelik menuju ke Uhud. Mungkin orang-orang kafir telah menyerang.”

Said yang masih belum sadar sepenuhnya, tersentak. 
Dia menyesal mengapa bukan dia yang mendengar suara itu. Malah isterinya. 

Dia segera bangun dan mengenakan pakaian perangnya. Sewaktu dia menyiapkan kuda, Nusaibah menghampiri. Dia menyodorkan sebilah pedang kepada Said.

“Suamiku, bawalah pedang ini. Jangan pulang sebelum menang….”

Said memandang wajah isterinya. Setelah mendengar perkataannya seperti itu, tak pernah ada keraguan padanya untuk pergi ke medan perang. 

Dengan sigap dinaikinya kuda itu, lalu terdengarlah derap suara langkah kuda menuju ke utara. 

Said langsung terjun ke tengah medan pertempuran yang sedang berkecamuk. Di satu sudut yang lain, Rasulullah melihatnya dan tersenyum kepadanya. 

Senyum yang tulus itu semakin mengobarkan keberanian Said.

Di rumah, Nusaibah duduk dengan gelisah. Kedua anaknya, Amar yang baru berusia 15 tahun dan Saad yang dua tahun lebih muda, memerhatikan ibunya dengan pandangan cemas. 

Ketika itulah tiba-tiba muncul seorang penunggang kuda yang nampaknya sangat gugup.
“Ibu, salam dari Rasulullah,” berkata si penunggang kuda, “Suami Ibu, Said baru sahaja gugur di medan perang. 
Beliau syahid…”

Nusaibah tertunduk sebentar, “Inna lillah…..” gumamnya, 

“Suamiku telah menang perang. Terima kasih, ya Allah.”

Setelah pemberi khabar itu meninggalkan tempat itu, Nusaibah memanggil Amar. 

Ia tersenyum kepadanya di tengah tangis yang tertahan, “Amar, kaulihat Ibu menangis?
Ini bukan air mata sedih mendengar ayahmu telah syahid. Aku sedih kerana tidak memiliki apa-apa lagi untuk diberikan pagi para pejuang Nabi. 
Mahukah engkau melihat ibumu bahagia?”

Amar mengangguk. Hatinya berdebar-debar.

“Ambilah kuda di kandang dan bawalah tombak. Bertempurlah bersama Nabi hingga kaum kafir terhapus.”

Mata Amar bersinar-sinar. “Terima kasih, Ibu. Inilah yang aku tunggu sejak dari tadi. Aku ragu-ragu seandainya Ibu tidak memberi peluang kepadaku untuk membela agama Allah.”

Putera Nusaibah yang berbadan kurus itu pun terus menderapkan kudanya mengikut jejak sang ayah. Tidak terlihat ketakutan sedikitpun dalam wajahnya. 

Di hadapan Rasulullah, ia memperkenalkan diri. “Ya Rasulullah, aku Amar bin Said. Aku datang untuk menggantikan ayahku yang telah gugur.”

Rasul dengan terharu memeluk anak muda itu. “Engkau adalah pemuda Islam yang sejati, Amar. Allah memberkatimu….”

Hari itu pertempuran berlalu cepat. Pertumpahan darah berlangsung hingga petang. Pagi-pagi seorang utusan pasukan Islam berangkat dari perkhemahan mereka menuju ke rumah Nusaibah. 

Setibanya di sana, wanita yang tabah itu sedang termangu-mangu menunggu berita, “Ada khabar apakah gerangannya?” serunya gementar ketika sang utusan belum lagi membuka suaranya, “Apakah anakku gugur?”

Utusan itu menunduk sedih, “Betul….”

“Inna lillah….” Nusaibah bergumam kecil. 
Ia menangis.
“Kau berduka, ya Ummu Amar?”

Nusaibah menggeleng kecil. “Tidak, aku gembira. Hanya aku sedih, siapa lagi yang akan kuberangkatkan? 
Saad masih kanak-kanak.”

Mendengar itu, Saad yang sedang berada tepat di samping ibunya, menyela, “Ibu, jangan remehkan aku. Jika engkau izinkan, akan aku tunjukkan bahwa Saad adalah putera seorang ayah yang gagah berani.”

Nusaibah terperanjat. Ia memandang puteranya. “Kau tidak takut, nak?”

Saad yang sudah meloncat ke atas kudanya menggeleng yakin. Sebuah senyum terhias di wajahnya. Ketika Nusaibah dengan besar hati melambaikan tangannya, Saad hilang bersama utusan itu.

Di arena pertempuran, Saad betul-betul menunjukkan kemampuannya. Pemuda berusia 13 tahun itu telah banyak menghempaskan banyak nyawa orang kafir. Hingga akhirnya tibalah saat itu, yakni ketika sebilah anak panah menancap di dadanya.

Saad tersungkur mencium bumi dan menyerukan, “Allahu akbar!”
Kembali Rasulullah memberangkatkan utusan ke rumah Nusaibah. 

Mendengar berita kematian itu, Nusaibah meremang bulu tengkuknya. “Hai utusan,” ujarnya, “Kausaksikan sendiri aku sudah tidak memiliki apa-apa lagi. Hanya masih tersisa diri yang tua ini. Untuk itu izinkanlah aku ikut bersamamu ke medan perang.”

Sang utusan mengerutkan keningnya. “Tapi engkau wanita, ya Ibu….”

Nusaibah tersinggung, “Engkau meremehkan aku kerana aku wanita? Apakah wanita tidak ingin juga masuk syurga melalui jihad?”

Nusaibah tidak menunggu jawaban dari utusan tersebut. Ia bergegas menghadap Rasulullah dengan kuda yang ada. 

Tiba di sana, Rasulullah mendengarkan semua perkataan Nusaibah. 
Setelah itu, Rasulullah pun berkata dengan senyum. “Nusaibah yang dimuliakan Allah. Belum masanya wanita mengangkat senjata. 
Untuk sementara engkau kumpulkan saja ubat-ubatan dan rawatlah tentera yang luka-luka. Pahalanya sama dengan yang bertempur.”

Mendengar penjelasan Nabi demikian, Nusaibah pun segera menenteng bekas ubat-ubatan dan berangkatlah ke tengah pasukan yang sedang bertempur. 

Dirawatnya mereka yang luka-luka dengan cermat. Pada suatu saat, ketika ia sedang menunduk memberi minum seorang perajurit muda yang luka-luka, tiba-tiba terpercik darah di rambutnya. Ia memandang. 
Kepala seorang tentera Islam tergolek terbabat senjata orang kafir.

Timbul kemarahan Nusaibah menyaksikan kekejaman ini. 

Apalagi ketika dilihatnya Nabi terjatuh dari kudanya akibat keningnya terserempet anak panah musuh, Nusaibah tidak dapat menahan diri lagi. 

Ia bangkit dengan gagah berani. Diambilnya pedang perajurit yang tewas itu. 
Dinaiki kudanya. 
Lantas bagaikan singa betina, ia mengamuk. 

Musuh banyak yang terbirit-birit menghindarinya. Puluhan jiwa orang kafir pun tumbang. 

Hingga pada suatu waktu seorang kafir menghendap dari belakang, dan menebas putus lengan kirinya. Ia terjatuh terinjak-injak kuda.

Peperangan terus saja berjalan. Medan pertempuran makin menjauh, sehingga Nusaibah teronggok sendirian. 

Tiba-tiba Ibnu Mas’ud menunggang kudanya, mengawasi kalau-kalau ada mangsa yang boleh ditolongnya. 

Sahabat itu, begitu melihat sekujur tubuh bergerak-gerak dengan payah, segera mendekatinya. 
Dipercikannya air ke muka tubuh itu. 

Akhirnya Ibnu Mas’ud mengenalinya, “Isteri Said-kah engkau?”

Nusaibah samar-sama memerhatikan penolongnya. 
Lalu bertanya, “bagaimana dengan Rasulullah? Selamatkah baginda?”

“Baginda tidak kurang suatu apapun…”

“Engkau Ibnu Mas’ud, bukan? 
Pinjamkan kuda dan senjatamu kepadaku….”

“Engkau masih luka parah, Nusaibah….”

“Engkau mahu menghalangi aku membela Rasulullah?”

Terpaksa Ibnu Mas’ud menyerahkan kuda dan senjatanya. 
Dengan susah payah, Nusaibah menaiki kuda itu, lalu menderapkannya menuju ke pertempuran. 

Banyak musuh yang dijungkirbalikannya . 
Namun, kerana tangannya sudah kudung, akhirnya tak urung juga lehernya terbabat putus. 

Gugurlah wanita itu ke atas pasir. Darahnya membasahi tanah yang dicintainya.

Tiba-tiba langit berubah hitam mendung. Padahal tadinya cerah terang benderang. Pertempuran terhenti sejenak. 

Rasul kemudian berkata kepada para sahabatnya, “Kalian lihat langit tiba-tiba menghitam bukan? Itu adalah bayangan para malaikat yang beribu-ribu jumlahnya. Mereka berduyun-duyun menyambut kedatangan arwah Nusaibah, wanita yang perkasa.”

Subhanallah.
Allahu akbar...
Allahu akbar...
Allahu akbar....

Tanpa perjuangan yg luar biasa dr para sahabat Nabi, mustahil agama Islam sampai kepada kita sekarang, dengan tenang dan damai.
Kita semua berhutang besar kepada mereka.
Mari kita bermunajat kepada Allah utk mendoakan mereka:
Semoga Allah Azza Wa Jalla menempatkan mereka semua di surga disamping Rasulullah. Dan semoga kita bisa bertetangga dg mereka.
Aamiin.

Cr: sharing session 'io

Monday, 11 April 2016

Sahabat Itu.....

Hari ini gue mau sedikit cerita tentang kesayangan gue. Yap kesayangan.
Belakangan ini gue baru sadar ternyata gue bisa punya sahabat lebih dari satu dan udah hampir 4 taun dan berharap bisa sampai seterusnya. haha :)

Cerita ini dimulai dari SD, gue cuma punya satu teman dekat bisa dibilang hampir mirip sahabat, kemana-mana bareng, belajar juga bareng, saling saingan juga buat dapatin ranking *namanya juga bocah*, sampai ibunya dia kenal juga sama ibu gue. Tapi ga berlangsung lama sih, kelas 5 dia udah punya teman baru terus gue ditinggalin gitu aja. kenapa gue bilang ditinggalin? karena dia bersikap seperti ga kenal gue sama sekali. Disitu gue pertama kali ngerasain yang namanya sakit hati, sakit banget ya ternyata, sampai nangis ke nyokap. Tapi saat itu gue malah dimarahin. Kata nyokap "makanya kalau punya teman tuh jangan satu dan itu-itu aja. Belajar temanan juga sama yang lain, jadi kalau ditinggalin ga nangis". haha bukannya gabisa berbaur, tapi gue ga gampang bisa dekat dengan orang, mungkin kalau teman sekedar teman, kalau kenal sekedar kenal, gabisa "setset" langsung bisa kemana-mana bareng, apa-apa bareng. Tapi ga lama setelah itu, gue akhirnya punya teman dan lebih dari satu. Ya macam geng-geng anak SD bocah gitulah. haha :D
Sayangnya waktu SMP kita ga samaan, gue lanjut masuk SMP islam, mereka ada yang masuk SMP negri dan yang satunya pesantren. :(


Dan taunya waktu SMP, kita (gue dan teman dekat gue dulu yang ninggalin itu) masuk sekolah yang sama lagi, akhirnya gatau gimana caranya kita pun sahabatan lagi, sampai akhirnya di kelas 8 (2 SMP) kita beda kelas, dia punya teman baru dan gue pun juga. Awalnya kita masih sering dekat lama-lama udah kayak orang ga kenal (lagi). haha kali ini tanpa nangis karena saat kelas 8 itu gue punya geng dan entah kenapa, apa itu dimulai jamannya anak-anak alay kali yak, gue satu geng berempatan dan namanyaaa deuuh super aneh. Ngakak aja kalau ingat-ingat masa itu. Dimana kita masing-masing orang punya buku macam buku curhatan gitu dan buku itu tiap minggunya digilir dan diisi. Oh men! buku itu masih ada sampai sekarang dan malu banget kalau di baca lagi. Ga nyangka gue bisa sealay itu DULU. DULU loh ya DULU. >.<  
Waktu itu sih semuanya indah dan berjalan muluuuss, sampai satu per satu teman-teman gue dari geng itu pacaran. And then, kalian pasti taulah pacar is more important than friend. Mirisnya satu-satunya dari geng itu yang ga pacaran cuma gue, alhasil gue yang ditinggal sendirian >.<. Kita masih sering ngumpul sih tapi cuma di sekolah aja, kalau udah diluar sekolah yaudah mereka sibuk sendiri sama pacarnya. Padahal dulu sebelum mereka punya pacar, kita kayak anak ga ada kerjaan gitu. Kirim-kirim SMS berempatan, telponan grup gitu berisik banget. Yap itulah yang terjadi sebelum makhluk bernama laki-laki menyerang. Dan kenapa saat itu gue ga ikut pacaran juga? Karena gue takut dengan yang namanya lelaki, sempat sih dijodoh-jodohin sama mereka. Tapi kayak ga ada tertarik gitu buat pacaran saat itu. -..-  

SMA. Saat SMA pun sama punya teman banyak tapi yang dekat satuu juga. Lucunya kalau kita lagi berantem, masing-masing langsung nyari teman sendiri-sendiri gitu haha 3 taun kita duduk bareng, kerjaannya main terus, sama juga tiap malam suka smsan ga jelas, tapiii ya semua berubah sampai datang makhluk yang bernama lelaki ini. Saat itu ya udah ga kayak biasanya aja walaupun tetap masih dekat tapi pasti ada yang berubah kalau udah datang yang namanya pacaran. -_-

Kuliah. Awalnya disini ngerasa ga punya teman dekat, semuanya sama teman biasa aja. Paling ciwi-ciwi kelas yang selalu barengan mungkin karena kita dikitan kali yaah, dari mulai makan ke kantin bareng, ngemas gondrong bareng, telat masuk ke kelas bareng, ngemall bareng (meskipun kita kebanyakan wacananya) :p, hobi berisik di kelas pun juga samaan -.- 
Sampaiii akhirnya gue ketemu mereka, kesayangan gue.
Kita bukan teman satu kelas, kita juga beda wajihah (organisasi), kita bukan teman sekosan, kita juga bukan teman sejurusan, tapi pasti ada alasan kenapa dari sekian banyak, Allah SWT mempertemukan kita dalam lingkaran ini. :')
Udah hampir 4 taun sama-sama, udah saling ngenal gimana kepribadian saudaranya masing-masing, walaupun udah ngenal bukan berarti ga pernah ribut sih haha. Tapi kan katanya berantem itu tanda peduli, berantem itu tanda cinta. Harus dipertanyain kalau udah bersama lama tapi ga pernah berantem pasti banyak yang dipendamnya itu. *ngeles ajee* :p 

Belakangan ini gue baru benar-benar menyadari makna dari rukun ukhuwah: Taaruf, Ta'alluf, Tafahum, Tanashuh, Ta'awun, Takaful, I'tsar. 
Yang pertama Taaruf dan Ta'alluf (kesatuan hati), dimana pada masa ini saling mengenal dan mencintai karena Allah SWT. Yap I feel that, awalnya kita masih saling mengenal dan lama-lama saling menyayangi karena Allah SWT. Pertama-tama emang gue ngerasa ga akan bisa berbaur dengan mereka, kerudung gue yang saat itu lebih pendek dari kerudung mereka, ilmu mereka yang tinggi, pemahaman agamanya yang luas, basic mereka semua yang baik-baik, ga kayak gue yang masa lalunya nakal T.T. Karena gue merasa minder duluan, merasa ga akan bisa berbaur, otomatis gue membuat jarak sendiri dengan mereka, sebenarnya lebih karena gue takut dan malu kalau mereka tau masa lalu gue, karena saat itu gue juga tergabung dalam ADK. Tapi kesini-kesini gue baru sadar, kalau pemikiran gue saat itu salah, mereka kan bukan orang suci yang ga pernah punya salah, walaupun ga sebesar kesalahan gue di masa lalu sih. 
Saling menyayangi karena Allah SWT, bisa diliat kalau ada diantara kita ada yang sakit, langsung di PM ditanyain sakit apa, mau dibawain makanan apa, bahkan kalau ga ada yang nungguin di kosan mereka rela nemenin di kosan sampai kadang ada yang ngebelain skip kuliah. :')
Yang selanjutnya Tafahum dan Tanashuh, Saling memahami dan menasehati jika terjadi kesalahan pada saudara kita. 
Sudah bisa lah yaa dibilang saling memahami, karena kita gabisa nuntut untuk selalu dipahami kalau kitanya sendiri ga mulai memahami orang lain. Nah, saling menasehati ini.. Ini yang paling ngebuat gue terharu dan jadi sayaang banget sama mereka. Karena di masa masih kuliah ini, gue sempat ngelakuin kesalahan lagi. Jatuh cinta sebelum waktunya. Tapi saat itu ga ada satupun dari mereka yang tau, gue juga gamau cerita ke mereka karena takut ditabayyunin, bukan karena ditabayyuninnya sih tapi lebih ke penyebaran beritanya. 
Suatu waktu kita-kita buat acara main bareng dan disana main truth or truth. Kita semua saling jujur-jujuran sampai ada yang nangis-nangisan juga. Saat itu akhirnya gue ceritain semua tapi tanpa menyebut nama sih, karena perjanjiannya gaboleh ada yg ditutupin dan gaboleh sebut nama orang. 
Daaan ternyata hasil ekspektasi sama kenyataannya berbeda, yang gue takut kalau nantinya gue cerita, mereka bakal abcdesampaiz, malah kebalikannya. Mereka menenangkan, menasehati harusnya gue kayak gimana, sampai mereka kasih gue cerita-cerita bagus biar gue bisa ngelupain dan hijrah jadi yang lebih baik lagi. :')
Ta'awun, Takaful dan I'tsar, yaitu saling tolong menolong, merasa senasib dan mendahulukan saudaranya. Kalau yang ketiga terakhir ini sih belum terlalu keliatan. Tapi kadang kita berusaha saling mengerti aja kalau ada yang ngebutuhin. 

Yang gue pelajari dari mereka adalah, sahabat itu seperti rezeki datang dari arah yang ga disangka-sangka, sahabat itu bukan mereka yang hanya menyalahkanmu tapi juga dia yang mau membantu memperbaiki kesalahanmu. Dari dulu pas ngeliat mbamba kerudung gede temenan rame-rame, berharap banget bisa sahabatan yang kya gitu. And now, Alhamdulillah Allah SWT mempertemukan gue dengan teman-teman gue sekarang ini. 
Jadi ingat cerita Ibnul Jauzi yang berpesan ke sahabat-sahabatnya sambil menangis, "Jika kalian tidak menemukanku nanti di surga bersama kalian, maka tolonglah bertanya kepada Allah SWT tentang aku: "Wahai Rabb kami... HambaMu si fulan, sewaktu di dunia selalu mengingatkan kami tentang Engkau... Maka masukkanlah ia bersama kami di surga-Mu.""
Cerita ini tentang sahabat yang mampu membebaskan sahabatnya dari siksa yang begitu pedih, siksa neraka yang menyakitkan. Seperti sebuah hadits yang menjadi dasar dari perkataan Ibnul Jauzi di atas. Hadits tentang penghuni surga yang tidak menemukan sahabat mereka di surga:

"Yaa Rabb... kami tidak melihat sahabat-sahabat kami yang sewaktu di dunia sholat bersama kami, puasa bersama kami, dan berjuang bersama kami."
Maka Allah berfirman:
"Pergilah kamu ke neraka, lalu keluarkanlah sahabat-sahabatmu yang di hatinya ada iman walaupun hanya sebesar zarah." (HR. Ibnul Mubarak dalam kitab "Az-Zuhd")


Seperti pesan Imam Al-Hasan Al-Bashri, “Perbanyaklah Sahabat-sahabat Mu’min-mu, karena Mereka memiliki Syafa’at pada hari kiamat.”

Walaupun gue belum sebaik kalian, masih belajar hijrah supaya ilmunya lebih banyak lagi, masih belajar juga supaya ga ngegalauin yang ga penting lagi, tapi tolong tanyakan aku kepada Allah jika kalian ga menemuiku di SurgaNya dan  Semoga Allah mempertemukan kita lagi di surgaNya.  Aamiin. :')
Uhibbukuma fillah ukhti-ukhtikuu ♥♥


Wednesday, 6 April 2016

Kepada Siapa Saya Harus Berbakti?

Garagara nonton sinetron tentang ibu di TV. Kali ini gue mau nulis tentang obrolan gue dan mama beberapa waktu lalu saat pulang ke rumah. Waktu itu gue lagi bantuin mama masak (lebih tepatnya ngeliatin aja sih) haha ><
Mama nanya gimana keadaan kampus dan gatau gimana caranya tibatiba nyerempet ke JODOH. As usual -.-

G: teman uni pernah bilang ma, katanya kalau seorang perempuan telah menikah maka dia wajib berbakti yg pertama pada suaminya yg kedua mertuanya. Trus dia bilang siapa yg harus berbakti ke orngtuanya kalau nanti dia nikah. Karena itu uni juga ikut mikir, uni perempuan ade juga perempuan. Trus siapa yg harus berbakti ke papa sama mama. Uni jadi ikut takut nikah juga. :(

M: iya emang benar kya gitu. Tapi kalau uni jadi mikir yang begitu berarti salah cara mikirnya

G: lah emang gimana ma?

M: itu untuk kasus jaman dulu dimana belum ada komunikasi. Dulu waktu zaman Nabi, ada seorang istri yang ditinggal suaminya berperang. Terus sebelum pergi, intinya suaminya bilang, "sebelum aku pulang kamu jangan pergi kemanapun dan jangan tinggalkan rumah ini". Nah istri tersebut taat sama perintah suaminya sampai suatu hari, datang orang bawa berita kalau ibu perempuan itu sedang sakit parah dan datang ke rumahnya buat ngajak perempuan itu untuk menjenguk ibunya yang sedang sakit. Tapi perempuan itu menjawab dengan gelisah, "maaf bukan saya tidak mau menjenguk ibu, tapi saya tidak bisa keluar rumah sebelum suami saya kembali. Sampaikan permintaan maaf saya ke ibu".
Sampai suatu hari ibunya meninggal, datang pula orang ke rumahnya untuk ngajak perempuan itu ke pemakaman ibunya sebagai penghormatan terakhir. Tapi karena suaminya belum juga pulang, perempuan itu meminta maaf gabisa keluar untuk ziarah ke pemakaman ibunya karena memegang amanah dari sang suami. 
Karena kesal orang tersebut mendatangi Rasulullah SAW untuk mengadukan permasalahannya "Wahai Rasulullah, wanita itu sangat keterlaluan, dari mulai Ibunya sakit hingga meninggal dunia dia tidak mau datang untuk menemui Ibunya". 
Rasulullah SAW bertanya "kenapa dia tidak mau datang?"
Orang itu menjawab, "Wanita itu mengatakan bahwa dia tidak mendapat izin untuk keluar rumah sebelum suaminya pulang berperang”, 
Rasulullah SAW tersenyum, kemudian beliau berkata “Dosa-dosa Ibu wanita tersebut diampuni Allah SWT karena dia mempunyai seorang puteri yang sangat taat terhadap suaminya”.
Gitu ceritanya, trus apa wanita itu dianggap durhaka sama ibunya kan engga. Itu kan jaman dulu ketika suaminya berperang dan gak ada komunikasi semudah sekarang. Kalau sekarang,misal suami uni bilang tolong jangan tinggalkan rumah sampai dia pulang kerja. Trus taunya mama sakit,kan uni bisa telpon ke suami izin buat jenguk mama pastilah dia ngizinin. Kalaupun engga,uni bisa telpon ke mama nanyain kabarnya gimana. Berbakti bisa dengan cara lain, ga harus 24 jam samasama. Dengan nelpon nanya kabar aja udah berbakti.
Kadang ada beberapa kasus yang ada di jaman dulu gabisa disesuaiin sma jaman sekarang yang udah modern.

G: gitu ya ma?

M: iya. Jadi jangan pernah mikir takut nikah karena takut ga berbakti sma mama papa.
karena menikah ga selalu tentang bahagia tapi menikah pasti membawa kebahagiaan.

G: ...

Jadi kepada siapa saya harus berbakti? Jelas yang pertama kepada orangtua. Tapi nanti suatu saat setelah menikah, kepada suami dan mertua yang perlu didahulukan dan bukan berarti kepada orangtua ga perlu berbakti malah itu wajib. Dan bisa berbakti dengan cara yang lain kalau jauh.
So, sekarang banyak-banyakin dulu berbakti sama mama papa and make them proud. πŸ˜‚πŸ˜‚

Tuesday, 29 March 2016

Cinta yang Pasti

Kagum itu manusiawi, ikhlas melepaskan itu pilihan !!

Aku pernah membayangkan kita bisa membangun hari tua bersama,,
menghadapi hidup berdua.

Kurasa itu manusiawi sekali dan terjadi pada semua orang..
Kagum akan sosok lelaki soleh, bijak dan berjiwa pemimpin sepertinya..

Tapi aku tau, aku tak mau mendahului Engkau atas perkara ini..
Aku bukan pendongeng boneka tangan yg bisa menentukan sendiri jalan ceritanya .
Aku pun tak menjamin apakah rasa ini benar2 nyata walau sudah sekian lama..
Kita punya jalan cerita masing-masing untuk menyongsong masa depan..

Yang pasti mengikhlaskan adalah cara terbaik untuk melanjutkan hidup kedepan untuk cinta yg sesungguhnya.
Mulai detik ini, tak ada lagi kata menunggu rasa yg tak pasti..
Karna cinta yg pasti hanya milik Sang Ilahi.
Kita hanya perlu ikhlas menerima ketentuan-NYA..

Terimakasih karna tanpa kau sadari, kau sudah mengajarkan banyak hal, ikhlas, sabar dan kuat.

Saat tak sengaja kau membaca tulisan ini, yakinlah aku sedang berusaha menjadi wanita yg tegar dan siap menggapai cinta yg lebih baik yg sudah dipersiapkan oleh-NYA..

Cr: maretaandika

Nemu tulisan bagus dan gue reblog.
Entah kenapa beberapa hari ini merasa yg seharusnya gaboleh dirasa. Tapi InsyaAllah bisa,berusaha keras supaya bisa.

"Tidak perlu berusaha keras utk melupakan,tdk perlu berusha keras utk menghilangkan. Hanya perlu ikhlas menjalani,kalau perlu menangis krn rindu yaudah nangis aja. kalau perlu menangis krn sakit yaudah nangis aja. Sampai nanti ia akan benar-benar hilang dgn sendirinya" - mybest :")

Wednesday, 16 March 2016

Anandito Dwis - Mencintai Kehilangan


berjalan..
berlari..
hati tertindih..
sulit tapi harus aku putuskan

jalanmu..
jalanku..
belum sempurna..
biar masa depan yang sempurnakan

suara-suara batinku melepaskanmu
lirih-lirih jiwaku membasuh pilu

REFF :
takdir yang Kau beri.. menguji hatiku 
terasa menyesakkan kehilangan ini..
tangis yang Kau beri.. membuka mataku
bahwa cinta yang sebenar cinta hanya ada SATU
karena kehilangan ini ku mampu mendekat kepadaMu

daun terjatuh di hadapanku
belajar menerima belajar menerima semuanya

Back to REFF

Monday, 1 February 2016

My Parents is Mehero

Bukaan. Ini bukan salah satu superhero, bukan anggota avengers juga haha :p
Ini cerita tentang orangtua terbaik sedunia.
Cerita tentang bangganya gue punya orangtua seperti mereka.

Mama berasal dari padang. Orang minang asli. Kalau diliat-liat diperhatiin pasti dikiranya galak. Soalnya matanya tajam bgt, jadi suka dikira galak. Hhe
Mama gue udah lama ditinggal ayahnya sejak kelas 6 SD, mama 9 bersaudara dimana cwenya cuma ada 3 orang. Dan salah satu adenya yang perempuan berkebutuhan khusus. Nenek yang wonderwoman hidup kerja sendiri buat ngehidupin 9 orang anaknya, yang dominan anaknya sarjana. Superr saluut :")
Mungkin karena mama berlatar keluarga seperti ini, mama sangat mandiri.

Papa juga berasal dari padang. Beda dengan mama, papa dari kecil hidup sedikit berkekurangan. Kakek yang superman kerja berjualan di pasar buat menghidupi 10 orang anaknya yang dominan juga merupakan sarjana dan alhamdulillah sukses hingga sekarang. Papa dan adik-adiknya selalu bantu kakek jualan di pasar.

Mama kuliah di Padang dan kerja di Bandung. Sedangkan papa kuliah di Bandung. Singkat cerita, ketemu dengan papa gue yang ternyata teman dari kakaknya. Katanya sih dijodohin, tapi kepo juga apa iya mereka dulu ga pernah pacaran dulu. Yang pasti gue tau, papa ga pernah pacaran dan cupu bgt sama perempuan. And only my mother can knock his heart :")
Setelah setahun menikah, lahirlah gue. Yang sudah sangaat menyusahkan karena tidak bisa dilahirkan dengan cara normal. :"(
Sejak SD gue dan ade gue selalu dijaga, gue ngerasanya diperlakukan begini karena kita berdua perempuan kali ya. Sekolah gue yang dekat pun kalau berangkat harus pakai jemputan sekolah karena ga ada yang ngantar. Kadang suka dibully juga sama kakak-kakak di jemputan "rumah dekat aja pakai jemputan. Sok kaya banget". "Dasar anak mami sekolah aja pakai jemputan" Dan bully-an yang lain. Awalnya gue dan ade gue biasa aja, stay cool. Tapi karena seringnya mereka ngebully, gue gamau lagi naik jemputan. Mama nanya kenapa gue gamau naik jemputan lagi, akhirnya gue terpaksa cerita. Waktu besoknya mau berangkat, mama gada marahin mereka cuma ngeliat mereka karena mama gue punya mata yang nyeremin. Akhirnya mereka pun takut dan ga pernah ngebully gue lagi. Tapi setelah itu gue tetap kekeuh ga mau lagi pakai jemputan. 
Saat SMA pun gue dimasukkan di SMA yang bagus, SMA yang mewajibkan siswanya untuk menghapal qur'an. Untuk menghadapi SNMPTN, orangtua gue juga memberikan yang terbaik. Dari tempat les yang bagus, sampai kosan yang dekat dengan tempat les karena tempat les gue di jakarta dan jauh dari rumah kalau harus tiap hari bolak-balik.

Yang gue kagum dari mama,beliau benar-benar multitasking. Dapat mengerjakan banyak kerjaan sekaligus dan sendirian. Tanpa punya pembantu dari dulu, mama beresin rumah sendiri, masak, nyetrika, nyuci, semuanya dikerjain sendiri. Papa pernah nawarin buat sewa mba, tapi mama gamau karena beliau bilang "darimana lagi seorang istri mendapat pahala kalau bukan berbakti untuk keluarganya". Mama bukan ga mau kerja kya ibu-ibu teman gue yang lain. Ibu wanita karir. Tapi papa ga bolehin mama kerja. Kata papa insyaallah papa yang akan berusaha mencukupi semua, tanpa mama harus kerja. :")

Kadang karena sangat over protektifnya, orang kya gue yang rasa penasarannya tinggi ini semakin ngelunjak. Gue udah di lesin segala macam apalagi agama, dari bahasa arab, les tahsin, sampai tiap maghrib selalu berjamaah dan selalu diberi tausyiah dari papa. Tapi entah karena guenya aja yang emang nakal atau efek lingkungan, gue mulai ngelakuin yang papa gabolehin. Sampai sekarang yang orangtua gue tau. Gue anak baik. :"(
Gue nyesal, sangat amat menyesal. Banyak andai yang keluar. Andai gue selalu nurut kata mereka. Andai gue ga pernah ngelanggar perintah mereka. Andai dan andai :"(
Mungkin seringnya gue sakit hati sekarang, karena Allah negur gue. Gue udah dikasih orangtua yang alhamdulillah ngerti tentang islam, orangtua yang superduper berusaha ga pernah ngecewain anaknya, tapi apa yang gue balas buat mereka. Nothing :"(

Sebenarnya ga ada maksud dari gue, buat mereka kecewa. 
Tapi masa remaja emang masa yang sangat labil. Harus kuat-kuat biar ga salah. Saat kuliah, baru gue berani mulai cerita ke mama kalau lagi suka orang. Beliau tidak pernah menyalahkan, tapi selalu menasihati kalau suka yang belum halal itu sekedar saja dan tidak berlebihan. Tapi lagi-lagi gue ga mendengarkan. Sepertinya gue terlalu menyukai orang tersebut, sampai suatu saat orang itu pergi, gue patah hati. Dan lagi-lagi siapa yang gue susahkan, pasti orangtua. Menangis ke mama dan yang mama selalu bilang "jodoh ga akan kemana. Berusaha aja jadi baik, nanti yang baik lain pasti datang". But I can't mom :"( kadang kita harus salah dulu, buat tau kenapa orangtua ngelarang apa yang pengen banget kita lakuin.

Gue orang yang terlalu jaim,terlalu kaku buat ngungkapin rasa sayang, bahkan ga pernah kalau ga disuruh :"(
Tapi yang pasti gue sayaaang banget sama mereka. Really really love them. Ga mau buat mereka kecewa lagi. Ga mau buat mereka sedih kalau liat gue lagi nangis. Maafin uni pa,ma.
Doain uni yang masih berusaha menjadi anak shalehah agar bisa mudahin papa mama masuk syurga. Uni juga masih terus berusaha supaya bisa memberikan papa mama mahkota di akhirat nanti. Ya Allah selalu lindungi mereka. Beri mereka kebahagiaan yang tak pernah henti. Aamiin :")
They always be my superhero.

Saturday, 2 January 2016

Dari Mereka Aku Belajar

Sudah 3 tahun lebih dan hampir 4 tahun, aku berada disini.
Berada di zona nyamanku kalau mereka bilang, di tempat dimana orang sering menyebutnya tempat berdakwah, tempat mencari ilmu, tempat berkumpulnya orang baik, bahkan sering dibilang tempat orang-orang eksklusif di kampus. Padahal sedikitpun kami ga pernah menempatkan diri menjadi eksklusif.

LDK namanya. Semua tau ga mudah berada disini karena ngurusin orang. Kasarnya, ngurusin diri sendiri aja belum bisa bagaimana bisa ngurusin orang. Tapi pernah ingat kata seorang ustad, "karena dengan mengurusi orang kita juga ikut berbenah diri". Bahkan orang-orang yang berada di lingkungan ini pun dianggap orang baik, yang bisa dijadiin contoh, yang jarang ngelakuin kesalahan. Haha aku ngerasain sendiri gimana teman kelas melihatku seperti itu. Mbaku pernah bilang "ADK itu seperti orang yang berada di daerah yang sekelilingnya cermin. Jadi kalau ada satu kesalahan yang dilakukan ADK, maka cermin2 itu akan tau dan akan dijadikan pembenaran". See ga mudah berada disini kan, terus kenapa aku bisa nyaman berada disini? Udah pernah nangis juga disini? Udah banyak "makan hati" juga disini? Terus kenapa masih betah selama hampir 4 tahun?

Waktu pertama kali masuk disini karena ga sengaja, karena seseorang yang mengajak bukan kemauan sendiri. Lalu berjalan terus sampai aku berada di suatu divisi dimana didalam divisi tersebut kehilangan ketuanya sehingga wakil akhwat maju sebagai ketua divisi. Single parent kami menyebutnya haha
Liat dari sana, aku langsung takut dan gamau lanjut lagi. Kenapa? Karena aku takut berada di posisi yang sama seperti kakak itu. Takut ditinggalkan. Di akhir kepengurusan tahun itu, divisiku mengadakan acara besar, disana aku bertemu dengan seorang akhwat yang sangatsangat senior, beliau bertanya apa aku ingin lanjut di LDK? Aku jawab tidak, beliau tanya kenapa? Aku jawab "gamau ah kak, mau fokus kuliah aja sama mau masuk lab biar bisa bantu ajarin ngoding". Beliau ketawa dan menjawab "yakin? Yakin kalau kamu keluar dari sini terus masuk lab langsung bisa ngoding? Yakin juga kalau kamu berada disini memberi manfaat ke orang banyak dan tetap gabisa ngoding?" Betul juga kata beliau, ternyata aku hanya berpikiran sependek itu. Lalu aku ceritakan penyebab lain kenapa aku mau keluar karena kehilangan kabid. Beliau menjawab "Ga semuanya begitu kok. Banyak yang masih bertahan berjuang". Oke karena beliau sudah cukup meyakinkanku akhirnya aku memutuskan lanjut tahun depan. Mungkin ini yang dinamakan bertemu orang yang tepat disaat yang tepat 😝

Ternyata di tahun kedua ini, aku dipindahkan ke divisi lain. Karena katanya potensiku ada di bidang tersebut. Lalu aku diamanahkan untuk mengkoordinir suatu proker acara bersama partner dari divisi yang sama. Daaan yang tadinya dipikir mudah dan seru, ternyata engga. Disaat tim kami lagi semangat-semangatnya, ketua acara tersebut menghilang tanpa kabar dan yang kutau dia pergi dengan alasan "toh tanpa aku pun acara ini akan tetap jalan". Bagaimana bisa orang berpikir seperti ini, kalau semua anggota tim berpikir hal yang sama. Terus siapa yang ngejalanin? πŸ˜‚πŸ˜‚
Semenjak kehilangan ketua tim, otomatis ga ada yang memantau. Dan tiap divisi di acara tersebut hanya sibuk dengan targetnya masing-masing. Waktu itu aku ditempatkan menjadi SC divisi acara, partnerku yang ikhwan sangat membantu sampai akhirnya beliau sibuk TA dan sering ditinggalkan juga πŸ˜…πŸ˜… setelah itu kejadian juga di akhwat yaitu sekdiv acaranya yang ingin mengundurkan diri awalnya karena katanya sakit hati dengan kadiv acaranya, lalu kami bantu selesaikan dan akhirnya pun tetap minta keluar dengan alasan tidak bisa membagi waktu dengan amanah yang lain. Huhu suka gemes sama orang kya gini. Tapi bisa apaa πŸ˜‚πŸ˜‚ Aku tak pernah merasa paling baik, merasa bekerja yang paling maksimal. Karena tim kami tim yang kuat saat itu, pastinya yang masih tersisa adalah orang-orang yang sangat ingin berjuang di jalan ini yang terseleksi dengan sendirinya karena gugur satupersatu. Dan mereka selalu angkatan yang lebih muda :")

Tahun ketiga setengah disini aku memutuskan untuk tetap lanjut, karena tahun kepengurusan ini dimana angkatanku yg memimpin dan setidaknya aku bisa berkontribusi membantu dakwah ini. Saat itu aku ditempatkan di LDK pusat untuk setengah kepengurusan.
Lalu karena ada masalah aku diturunkan ke fakultas untuk membantu divisi tersebut karena kehilangan sekbid dan aku bertugas membantu kabidnya. Awalnya aku menolak, takut staffnya gamau nerima aku, karena aku datang sebagai orang asing dari pusat di syuro mereka dan banyak pemikiran kalau orang-orang di pusat selalu ganggu fakultas.πŸ˜‚πŸ˜‚ Awalnya berjalan lancar, lama-lama kejadian seniorku dulu terulang dimana kabidnya menghilang dengan alasan sudah terlalu sakit hati. Oh meeen, pernah ga ngerasain di posisiku dimanaaa sebagai orang asing yang baru datang, baru dua kali syuro baru sksd sama staffnya tibatiba udh ditinggal kabid dan itu artinya KERJA SENDIRI. Hal yang paling kutakutkan kejadiaan T.T
Padahal di grup itu pun setiap aku post ga pernah ada yang nanggapin, mungkin karena mereka masih berpikir "siapa nih".
Saat itu aku merasa ingin keluar, sangaat ingin keluar. Tapi apa daya kalau ditanya ke hatiii yang paling dalam, selalu ada kata "bertahanlah sebentar lagi". :")
And then aku bertahan. Aku bentuk formasi dimana bukan aku yang memimpin tapi setiap staff dalam divisi tersebut merupakan pemimpin sehingga mereka merasa memiliki LDF ini. Awalnya sih bisa begini, tapi setelah mereka sibuk, ya lupa lagi.
Akhirnya aku mulai memberanikan diri dengan menchat personal staff-staff yang berada disana, aku tanya perasaan mereka, apa yang mereka rasakan selama kepengurusan, ya sekedar dengar curhatan mereka aja. Sediiih, sediiih banget hari itu. Karena aku baru tau kalau mereka sayang, mereka sangat sayang LDK ini, mereka tetap mau berjuang meski sudah ditinggalkan kabid-sekbid yang seharusnya membimbing mereka, menguatkan mereka. Mungkin kalau aku ada di posisi seperti mereka, aku juga bakal hilang karena buat apalagi dipertahankan kalau kakaknya udah ga ada. Tapi mereka bedaa, mereka bertahan dan masih tetap sayang 😭

Setelah itu,Entah kenapa ada beberapa orang dengan kesadaran sendiri muncul memimpin, masih mau membangun divisi ini yang kubilang rapuh, kalau disentil dikit aja pasti udah jatuh. Orang-orang tersebut semangat mengajak teman lainnya untuk syuro lagi, menjalankan proker yang masih tertinggal.  Masya Allah :")
Yang tadinya aku merasa dirugikan karena diturunkan ke fakultas dan ditinggalkan begitu saja. Saat itu aku merasa sangat bersyukur, karena Allah mempertemukanku dengan mereka untuk mengingatkan kalau aku pernah berada di posisi mereka yang sangat bersemangat di jalan ini, yang pernah merasa sangat cinta dengan LDK ini saat ada yang menjelekkan :") mungkin kontribusiku selama ini tidaklah banyak. Tapi aku beruntung telah mendapatkan banyak pelajaran, banyak ilmu agama, ukhuwah yang seperti keluarga, yang belum tentu orang lain disana bisa dengan mudah mendapatkannya. 
Karena ilmu tidak selalu didapatkan dari yang lebih tua, tapi yang lebih muda secara tidak langsung juga telah mengajarkan kita bahwa dakwah adalah cinta. πŸ˜‚

Seperti pesan imam syahid Hasan Al-Banna
"Andai islam seperti sebuah bangunan usang yang hampir roboh, maka akan aku berjalan keseluruh dunia mencari jiwa-jiwa muda, aku tidak ingin mengutip dengan ramai bilangan mereka, tapi aku inginkan hati-hati yang ikhlas untuk membantuku dan bersama membina kembali bangunan usang itu menjadi sebuah bangunan yang terseragam indah"  πŸ˜‚πŸ˜‚

Terimakasih SKI dan Al-Fath untuk semua kenangannya. Bangga bisa bersamamu 3 setengah tahun ini :")